cara terakhir
seklasik kedengarannya, aku jatuh cinta padamu dengan pelan-pelan. tanpa beban, tanpa sadar, dan tanpa harapan apa-apa. awalnya, aku pikir bukan masalah kalau bukan kamu orangnya. toh, memaksa jadi satu juga akan membuat semuanya rumit. jadi memang betul katamu: tidak memulai apa-apa adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan.
tapi makin lama aku mengenalmu, makin aku yakin bahwa tidak bisa kalau bukan kamu. padahal, aku belum siap melepasmu. aku tahu semua akan baik-baik saja meski bukan kamu orangnya. aku tahu semesta selalu akan mengirim orang yang lebih baik.
tapi, bagaimana? mereka semua bukan kamu. mereka bukan laki-laki yang membuatku jatuh cinta dengan cerdik sinar matanya, atau dengan gaya bicaranya yang mengesalkan setengah mati, atau dengan segala kebiasaan-kebiasaan uniknya yang lekat di ingatanku. rasa-rasanya aku ingin egois dan meminta pada tuhan bahwa aku tidak ingin orang lain selain kamu.
itu akan jadi permohonanan yang sangat jahat bukan? sebab doa-doa yang kuanggap baik, belum tentu baik untuk hidupmu. hal-hal sulit yang kupikir bisa kujalani asal bersamamu, belum tentu sanggup kamu jalani juga.
jadi, kukembalikan namamu pada tuhanku. kukirimkan lantunan doa-doa malam supaya setiap langkahmu disertai, supaya semua hal yang kamu kerjakan dibuat tuhan berhasil, supaya kamu senantiasa dilimpahi berkat dan kedamaian jiwa.
apa yang harusnya terjadi, biarlah jadi. pada akhirnya, jika tuhan mempertemukan kita untuk saling membersamai, pasti Ia akan lakukan dengan cara-Nya.
aku serahkan kita pada semesta. ini cara terakhirku mencintaimu.
Komentar
Posting Komentar