roller coaster
pagi ini ada namamu muncul dalam bentuk pertanyaan dari seorang teman. pertanyaan itu muncul setelah berjilid-jilid sesi curhat penuh dengan air mata di mana tiap kali ia memberi saran—seringnya sih menyuruhku untuk pergi dan merampungkan perasaanku kepadamu—aku selalu batu.
"bagaimana perasaanmu jatuh cinta dengannya?"
aku diam, menjatuhkan pandangan pada buku doaku. menimbang-nimbang dan mencoba menakar—seberapa besar? seberapa banyak? sedalam apa?
kalau disuruh menggambarkan seperti apa... aku sendiri juga bingung. aku bukan orang yang paling ahli bicara jujur soal perasaan, apalagi untuk menuangkannya dalam bentuk ungkapan.
sudah lama sekali sejak terakhir kali duniaku carut marut karena laki-laki dan hati. jadi ketika tanpa sadar aku mulau menguarkan namamu dalam doa, aku sudah jatuh sedalam-dalamnya. tanpa sadar, tidak terencana, dengan berlusin-lusin pikiran denial yang berusaha kujejalkan ke kepala.
aku jatuh cinta padamu pelan-pelan, tanpa beban dan harapan. setiap saat yang aku lalui bersamamamu selalu, selalu menyenangkan jiwaku. kebetulan-kebetulan yang aku temukan mengenai kita membuatku bertanya-tanya apakah pertemuan kita adalah bagian kecil dari rencana besar tuhan untuk membentuk kita. tahu-tahu, aku sudah lupa bahwa awalnya, kita hanya bermaksud jadi teman baik.
aku senang memikirkanmu.
keserakahan menyerbuku laiknya kawanan lebah yang menyerang pengganggu. mulai muncul pertanyaan-pertanyaan tentang perasaan. aku butuh pengakuan. aku ingin menjadi tempatmu pulang dan meletakkan lelah. aku takut jatuh sendirian.
selalu ada sensasi aneh yang menakutkan tapi menyenangkan tiap kita berbincang atau bertatap muka. ada waktu di mana rasanya kamu begitu dekat untuk aku dekap, meski lalu kamu bisa pergi kapanpun kamu mau.
ledakan emosi yang memburu tidak karuan, naik turun penuh kebingungan dan ketidakpastian. sebuah jenis perasaan yang belum pernah aku temui di tempat manapun. kedengaran seperti drama menye-menye opera sabun, tapi penggambaran yang paling akurat adalah—
"seperti roller coaster, " balasku. "naik turun, menakutkan dan aneh. tapi aku ingin merasakannya terus menerus."
"tidak mungkin bisa terus begitu, kalian kan cepat atau lambat sudah harus selesai," sahut temanku pelan. "dia sendiri kan yang bilang, kalian tidak akan bisa memulai apapun."
aku ditelan sunyi. raib semua kosakata tiap pembahasan yang sama datang. aku tidak mau berhenti naik roller coaster. tapi, naik roller coaster terus-terusan bisa membuatmu muntah, kan?
"betul katamu. tidak mungkin terus-terusan. bagiku, bisa merasakan naik roller coaster meski hanya sebentar pun sudah cukup."
pertemuan kita ajaib. dari sekian banyak orang, seluas-luasnya kesempatan dan sebesar-besarnya semesta ini, tuhan memberi aku kesempatan untuk berpapasan denganmu. pertemuan kita adalah sesuatu yang aku syukuri sekarang, sekalipun jika kamu tidak dimaksudkan untuk menetap.
lagipula, tidak semua tokoh yang bertemu harus bertumbuk.
—magelang, 19 juli 2020.
Komentar
Posting Komentar